Tampilkan postingan dengan label elmu agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elmu agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Adab-Adab Berhubungan Suami Isteri

Adab-Adab Berhubungan Dengan Suami Isteri

Dalam rangka mnciptakan generasi Qurani yang sejak lahir sudah dipancari Ma’rifatullah dan tumbuh dalam naungan ma’rifatullah, maka dari sari pati Al Qurân dan Hadis-Hadis Rasulullah saw kita temukan bahwa pendidikan Islam itu dimulai dari pelaminan. Laksana membuat kue bolu, adonan pertama menentukan bagus tidaknya kue tersebut.

Itulah sebabnya, maka Rasulullah saw memberikan tuntunan adab-adab dalam berhubungan dengan istri sebagai berikut :

1. Berwudu lebih dahulu.Wudu adalah usaha untuk mencapai tazkiyah secara syar’i,baik lahir maupun batin.

2. Sebelum sanggama membaca ” basmalah ” lebih dahulu: ” Bismillâhir rahmânir rahîm ”.

3. Membaca surah Al Fâtihah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(1)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(2)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(3)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ(4)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ(5)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ(7)

4. Membaca surah Al Ikhâsh :

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)

5. Membaca tahlil :

لاإله إلا الله

”Lâ ilâha illallâh ”.

6. Berdoa sebelum mengumpuli istri:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي وَجَنِّبِ الشَّيَاطِيْنَ مَا رَزَقْتَنَا

”Allâhumma jannibnî wajinnibis syaithâna mâ razaqtanâ ”.

Artinya : ” Ya Allah ! jauhkanlah setan dari padaku dan jauhkanlah setan dari pada yang sudah dilimpahkan atas kami .”

1. Pada puncak orgasmus (puncak syahwat ), berdoalah dengan khusyu’ sambil menggerakkan bibir :

“ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنَ الصَّالِحِيْنَ ”

“Rabbanâ hab lana minasshâ lihîn ”

”Limpahkanlah kepada kami putera/puteri yang saleh ”.

7. Doa tersebut di atas diteruskan dengan hamdalah :

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا

”Al hamdu lillâhil ladzî khalaqa minal mâi basyaran”

”Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari air”.

9. Dikala sanggama hendaknya tidak menghadap kiblat atau Makkah Al Mukarramah.

10. Suami hendaknya menutupi dirinya dan kepalanya dengan selimut atau kain serta diam.

”Apa bila salah seorang diantara kamu mendatangi istrinya ,maka janganlah bertelanjang seperti keledai ” ( Al Hadis ).

11. Hendaklah laki-laki mendahulukan kata-kata kasih sayang dan cumbuan yang manis-manis.

12. Tidak melakukan sanggama dikala istri dalam keadaan haid.

13. Tiga malam dimakruhkan bersanggama dengan istri yaitu,pada malam pertama,malam pertengahan dan malam terakhir tiap bulan (bulan Hijriyah ).

14. Suami hendaknya berusaha memberikan kepuasan kepada istrinya.

15. Mandi janabah (junub),seuai dengan tuntunan Rasul saw sebelum salat.

Senin, 16 November 2009

Hak-hak Suami atas Istri

Hak-hak suami yang wajib dipenuhi istri banyak sekali dan sangat agung. Begitu agungnya sampai-sampai Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim). Bahkan bagaimana seorang istri memenuhi hak suaminya bisa menjadi penentu nasibnya di akhirat kelak, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perhatikanlah selalu bagaimana hubungan engkau dengan suamimu, karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (Shahih. Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ath Thabrani).

Terhadap suaminya, seorang istri harus menjalankan etika-etika berikut ini:

1. Taat kepada suami selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Ta‘ala

Seorang istri wajib menta’ati suami Firman Allah Ta‘ala, "Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).

2. Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaannya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya

Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan anaknya." (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian sukai." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

3. Tetap berada di rumah suami, dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (Al-Ahzab: 33).

"Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Al-Ahzab: 32).

"Allah tidak menyukai ucapan buruk." (An-Nisa': 148).

"Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya'." (An-Nuur: 31).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu." (HR Muslim dan Ahmad).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya." (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Izinkan wanita-wanita pergi ke masjid pada malam hari."

Ciri Istri Sholehah

Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya.

Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik dari dunia beserta isinya. ''Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalehah.'' (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama, melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, ''Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.'' (HR Ibnu Majah).

Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, ''Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu ...'' (HR Hakim).

Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ''Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.''(QS Ar Rum : 21).

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.'' (HR Thabrani dan Hakim).

Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istri menjadi 'yang terbaik', sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.